TASIKMALAYA — Nama Sukapura tidak hanya hidup dalam catatan sejarah Priangan. Semangatnya terus dibawa oleh anak-anak mudanya untuk berkarya di berbagai penjuru Nusantara. Salah satunya adalah Fiona Euis Callaghan, mojang Tasikmalaya yang menunjukkan pengabdian dan kiprahnya di tanah Papua.

Cuplikan layar 2026 10 07 160245

Jejak pengabdian Fiona membawa semangat Sukapura untuk Nusantara, dari Tasikmalaya menuju Papua, termasuk wilayah Asmat dan Papua Selatan. Di tanah yang jauh dari Priangan itu, identitas sebagai putri Tasikmalaya tidak menjadi sekadar kebanggaan, tetapi diterjemahkan dalam kerja, kebudayaan, pendidikan, serta upaya membangun hubungan antardaerah.

Dari Sukapura, Menyapa Tanah Papua

Bagi Fiona, Sukapura bukan hanya nama masa lalu. Sukapura merupakan warisan nilai tentang pengabdian, kebudayaan, keberanian untuk merantau, dan kemampuan beradaptasi dengan masyarakat Nusantara yang beragam.

Baca Juga  POTONGAN MAXIM DIPERSOALKAN! DRIVER MENUNTUT KEADILAN, PEMERINTAH JANGAN TUTUP MATA 21 PERSEN DIPERTANYAKAN — FAKE GPS DISOROT — REKRUTMEN TANPA BATAS DIKRITIK

Kehadirannya di Papua menjadi gambaran bahwa orang Tasikmalaya tidak harus berkarya hanya di tanah kelahirannya.

Sukapura bisa hadir di Papua.
Sukapura bisa hadir di Asmat.
Sukapura bisa hadir di Papua Selatan.
Dan karya orang Tasikmalaya bisa menjadi bagian dari perjalanan Nusantara.

Semangat itulah yang kemudian menemukan ruang dalam berbagai aktivitas kebudayaan dan pembangunan masyarakat.

Ranah Budaya Menjadi Jembatan Nusantara

Dalam salah satu dokumentasi yang beredar, Fiona terlihat terlibat dalam diskusi bersama unsur pemerintahan dan pemangku kebudayaan di Papua. Percakapan tersebut mengangkat persoalan yang berkaitan dengan kemajuan daerah, perpustakaan, kepemudaan, olahraga, pariwisata, serta kebudayaan.

Hal tersebut menunjukkan bahwa kebudayaan tidak seharusnya ditempatkan sebagai sekadar seremoni. Kebudayaan dapat menjadi pintu masuk untuk membangun dialog, pendidikan, kreativitas, pariwisata, sekaligus memperkuat hubungan antarmasyarakat.

Dari Sukapura menuju Papua, terjadi perjumpaan dua ruang kebudayaan yang berbeda tetapi berada dalam satu rumah besar bernama Indonesia.

Kreator Tasikmalaya Berkarya untuk Nusantara

Fiona Euis Callaghan juga merepresentasikan wajah generasi kreatif Tasikmalaya yang tidak berhenti pada ruang lokal.

Tasikmalaya mempunyai sejarah panjang dalam melahirkan pendidik, seniman, budayawan, aktivis, dan kreator. Tantangannya sekarang adalah bagaimana kreativitas tersebut dapat menembus batas geografis dan memberikan manfaat bagi masyarakat yang lebih luas.

Apa yang dilakukan Fiona menjadi salah satu contoh bahwa kreator Tasikmalaya tidak harus menunggu panggung datang ke Tasikmalaya. Mereka dapat membawa nama Tasikmalaya ke berbagai penjuru Nusantara.

Baca Juga  KRAKATAU MENGAMUK Ketika Selat Sunda Menjadi Laut Kematian Catatan dari Zaman Hindia Belanda, 26–27 Agustus 1883

Dari Priangan ke Papua, dari Sukapura menuju tanah Asmat dan Papua Selatan, ada pesan sederhana yang patut dirawat:

“Kami datang bukan sekadar membawa nama Tasikmalaya, tetapi membawa semangat untuk berkarya bagi Nusantara.”

Sukapura untuk Nusantara

Semangat tersebut menjadi semakin relevan ketika identitas daerah tidak dipahami sebagai tembok pemisah, melainkan sebagai akar untuk tumbuh dan berkontribusi lebih luas.

Sukapura untuk Nusantara bukan berarti meninggalkan Tasikmalaya. Justru sebaliknya, semakin jauh seseorang melangkah, semakin kuat pula tanggung jawab untuk memperkenalkan nilai, sejarah, dan kebudayaan tanah asalnya dengan cara yang positif.

Fiona Euis Callaghan menunjukkan bahwa mojang Tasikmalaya dapat hadir di ruang-ruang Nusantara, berdialog dengan masyarakat berbeda, belajar dari kebudayaan lokal, sekaligus memberikan kontribusi melalui pengabdian dan kreativitas.

Dari Tasikmalaya – Sukapura – Asmat – Papua Selatan, perjalanan itu menjadi sebuah narasi tentang Indonesia yang sesungguhnya: berbeda dalam budaya, jauh dalam geografis, tetapi dipertemukan oleh semangat untuk saling mengenal, belajar, dan berkarya.

Tasikmalaya Tidak Hanya Menjadi Penonton

Pada akhirnya, cerita Fiona adalah bagian kecil dari cerita besar tentang anak-anak muda Tasikmalaya.

Bahwa Tasikmalaya tidak boleh hanya menjadi penonton ketika Nusantara bergerak.

Tasikmalaya harus ikut berkarya.
Tasikmalaya harus ikut mengabdi.
Tasikmalaya harus ikut menjaga kebudayaan.
Tasikmalaya harus hadir untuk Nusantara.

Dan dari tanah Sukapura, semangat itu terus berjalan.

Baca Juga  Gubernur Jawa Barat Siapkan Apresiasi bagi Warga yang Bantu Ungkap Kejahatan Jalanan

Sukapura untuk Nusantara.
Papua untuk Indonesia.
Tasikmalaya berkarya untuk Nusantara.

Tasikmalaya Undercover | Warta Sukapura
Mengabarkan jejak manusia, sejarah, budaya dan gerak Nusantara.

Bagikan:

Sultan Firman s

Pemerhati sejarah lokal priangan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *