Influencer vs Akal Sehat: Kita Sedang Bodoh secara Sukarela

Mari jujur: masalah utama hari ini bukan influencer. Masalahnya adalah kita yang terlalu mudah percaya. Kita hidup di era di mana seseorang bisa bicara ngawur di kamera, lalu dianggap lebih kredibel daripada akal sehat, data, atau bahkan pengalaman hidup sendiri—asal wajahnya familiar dan followers-nya banyak. Ini bukan sekadar krisis informasi. Ini krisis berpikir.

Followers Banyak ≠ Otak Dipakai

Banyak influencer tidak tahu apa yang mereka bicarakan. Mereka hanya tahu apa yang laku. Tapi anehnya, jutaan orang tetap menelan mentah-mentah:

Baca Juga  MENDUKUNG TAMBANG ILEGAL? JANGAN ANGGAP ITU SEKADAR PILIHAN, ITU RISIKO HUKUM

Akal sehat seharusnya curiga. Tapi yang terjadi justru sebaliknya: yang berpikir kritis dianggap sok pintar, yang nurut dianggap relatable.

Kita Lebih Percaya Kamera daripada Logika

Begitu sesuatu diucapkan dengan percaya diri di depan kamera, kebenaran seolah otomatis lahir. Padahal, kamera tidak menyaring kebodohan—ia hanya mempercantiknya.

Lebih parah lagi, banyak orang:

Ini bukan fanbase, ini penyerahan nalar secara massal.

Influencer Panen, Audiens Menjadi Korban

Saat influencer salah, mereka minta maaf (kadang tidak), lalu lanjut hidup. Audiens? Menanggung dampaknya sendiri. Salah konsumsi, salah keputusan finansial, salah pola pikir. Tapi anehnya, kepercayaan tetap diberikan ulang, seolah memori kolektif kita di-reset setiap konten baru muncul. Berpikir kritis itu tidak seksi. Tidak viral. Tidak bisa dipotong jadi 30 detik. Maka ia kalah oleh konten dangkal yang menyenangkan tapi menyesatkan.

Kita dibentuk jadi generasi yang:

Dan kita menyebut ini “zaman digital”.

Kalau Semua Dipercaya, Maka Kita Layak Dibohongi

Influencer akan terus ada. Algoritma akan terus mendorong yang paling berisik, bukan yang paling masuk akal. Tapi kalau kita terus menonaktifkan akal sehat demi kenyamanan, kita bukan korban—kita relawan. Di dunia yang penuh konten, kemampuan paling radikal hari ini bukan bikin viral, tapi berpikir sendiri. Mengkritisi influencer bukan berarti menolak media sosial atau budaya digital. Yang diperlukan adalah reposisi akal sehat sebagai filter utama. Influencer seharusnya diperlakukan sebagai referensi, bukan otoritas mutlak. Setiap opini perlu diuji, dibandingkan, dan disesuaikan dengan konteks personal serta data yang ada. Berpikir kritis memang membutuhkan usaha. Namun, menyerahkan penilaian hidup sepenuhnya kepada figur populer adalah bentuk kemalasan intelektual yang mahal harganya.

Baca Juga  Dari Buku Broken Strings yang Ditulis Aurelie Moeremans: Netizen Makin Melek tentang Child Grooming

Kalau akal sehat mati, jangan salahkan influencer.
Mereka hanya memanfaatkan apa yang kita izinkan.

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *