Tasikmalaya Undercover | Dari Rakyat untuk Rakyat

Oleh: Sultan Firman Sativa, S.Pd. / Sultan Delpohon

Tasikmalaya Undercover Lampion dan Sawah Retak

TASIKMALAYA — Di tengah kemeriahan lampion dan gemerlap lampu di kawasan Dadaha pada Oktober 2026, ada pemandangan lain di sudut Kota Tasikmalaya yang tidak boleh luput dari perhatian: sawah mengering, saluran irigasi kehilangan air, dan petani kecil di Cigantang, Kecamatan Mangkubumi, menghadapi ketidakpastian musim tanam.

Baca Juga  TASIKMALAYA DARURAT GENG MOTOR: KETIKA JALANAN MENJADI RUANG PERTARUNGAN

Dua wajah kota itu seolah berdiri berhadap-hadapan. Di satu sisi, ruang publik tampil dengan cahaya dan kemeriahan. Di sisi lain, tanah pertanian di Kampung Pajagan, Kelurahan Cigantang, menghadapi kekeringan yang mengancam penghidupan warga.

Persoalannya bukan semata-mata lampu, lampion, atau kegiatan publik. Kota tentu membutuhkan ruang rekreasi dan kegiatan masyarakat. Namun, ketika sebagian petani kesulitan memperoleh air untuk mengolah sawah, muncul pertanyaan mendasar: seberapa jauh perhatian pemerintah kota menjangkau rakyat yang sedang menanggung beban kekeringan?

KETIKA TANAH RETAK, PENGHIDUPAN IKUT TERGUNCANG

Pemberitaan detikJabar pada 6 Oktober 2026, sebagaimana dirujuk dalam bahan tulisan ini, melaporkan kekeringan lahan pertanian di kawasan Cigantang. Sejumlah petani disebut tidak dapat mengolah sawah karena saluran irigasi mengering.

Pada tanggal yang sama, Harapan Rakyat juga diberitakan mengangkat persoalan petani di Kampung Pajagan yang terpaksa menunda musim tanam berikutnya akibat keterbatasan air.

Bagi petani kecil, air bukan sekadar unsur alam. Air menentukan apakah sawah dapat diolah, benih dapat ditanam, dan keluarga memiliki harapan atas hasil panen mendatang.

Ketika musim tanam tertunda, persoalannya tidak berhenti pada kalender pertanian. Biaya pengolahan lahan, kebutuhan rumah tangga, tenaga kerja, dan sumber penghasilan ikut berada dalam ketidakpastian. Bagi mereka yang menggantungkan hidup pada hasil sawah, satu musim yang terganggu dapat menjadi beban panjang.

Di sinilah persoalan kekeringan harus dibaca sebagai persoalan ekonomi rakyat, bukan hanya fenomena cuaca.

DADAHa BERCahaya, CIGANTANG MENANTI PERHATIAN

Pemerintah memiliki kewajiban untuk mengurus berbagai kebutuhan kota, mulai dari ruang publik hingga ketahanan pangan. Namun, keberhasilan pembangunan tidak cukup diukur dari meriahnya acara, indahnya lampu, atau ramainya publikasi.

Pembangunan juga harus terlihat pada kemampuan pemerintah merespons kesulitan warga yang tidak selalu hadir di panggung seremoni.

Wali Kota Tasikmalaya Viman Alfarizi Ramadhan layak dimintai penjelasan mengenai langkah konkret pemerintah dalam menangani kekeringan di Cigantang. Apakah lahan terdampak telah dipetakan? Apakah kerugian petani sudah didata? Bagaimana kondisi saluran irigasi, dan langkah apa yang disiapkan untuk membantu petani menghadapi penundaan musim tanam?

Pertanyaan tersebut bukan tuduhan bahwa pemerintah sama sekali tidak bekerja. Pertanyaan itu adalah bagian dari hak publik untuk mengetahui tindakan, prioritas, dan hasil kebijakan yang menyangkut kehidupan masyarakat.

Sebab, ukuran perhatian pemerintah bukan hanya apa yang terlihat di pusat keramaian, melainkan juga apa yang dikerjakan di tempat warga sedang menghadapi kesulitan.

PETANI BUKAN FIGUR PELENGKAP DALAM PIDATO PEMBANGUNAN

Petani kerap disebut sebagai penyangga ketahanan pangan. Akan tetapi, sebutan terhormat itu harus diterjemahkan menjadi perlindungan yang dapat dirasakan ketika sawah kekurangan air.

Jangan sampai petani hanya diingat ketika panen raya, peringatan hari besar, atau pidato tentang ketahanan pangan. Ketika sawah mengering dan kesempatan menanam hilang, mereka membutuhkan tindakan yang terukur, bukan sekadar kata-kata penghibur.

Pemerintah Kota Tasikmalaya perlu mengoordinasikan langkah yang sesuai dengan kondisi lapangan, antara lain:

  1. Pendataan dan pemetaan lahan terdampak, termasuk luas sawah, jumlah petani, serta tingkat kerusakan dan kehilangan kesempatan tanam.
  2. Pemeriksaan saluran irigasi dan sumber air, disertai koordinasi dengan instansi terkait untuk menentukan tindakan yang memungkinkan dilakukan segera.
  3. Dukungan bagi petani terdampak, berdasarkan hasil pendataan dan ketentuan program bantuan yang tersedia.
  4. Pemantauan berkala dan keterbukaan informasi, agar warga mengetahui langkah pemerintah, jadwal penanganan, serta hasil yang sudah dicapai.
  5. Perlindungan terhadap usaha pembudidaya ikan, terutama apabila berkurangnya ketersediaan air turut mengganggu kolam dan meningkatkan risiko kerugian.
Baca Juga  Ketika Influencer Lokal Terjebak Narsistik, Publik yang Menanggung Dampaknya dan Krisis Etika di Ruang Digital

Langkah tersebut perlu dirancang berdasarkan kebutuhan nyata warga Cigantang, bukan hanya berdasarkan laporan administratif dari balik meja birokrasi.

JANGAN BIARKAN KEKERINGAN MENJADI URUSAN PETANI SENDIRIAN

Dampak kekeringan tidak selalu berhenti di petak sawah. Ketika produksi pertanian terganggu, perputaran ekonomi keluarga petani dan masyarakat yang bergantung pada kegiatan pertanian juga dapat terkena imbasnya. Pembudidaya ikan pun berpotensi menghadapi masalah ketika ketersediaan air menurun.

Karena itu, persoalan Cigantang seharusnya menjadi perhatian bersama pemerintah, masyarakat, dan pihak-pihak terkait. Petani tidak semestinya dibiarkan menanggung seluruh risiko dari keadaan yang memerlukan koordinasi lintas sektor.

Di tengah kemeriahan kota, jangan sampai suara petani tenggelam oleh gemerlap lampu. Jangan sampai pembangunan lebih mudah dikenali melalui panggung dan publikasi daripada melalui perubahan yang dirasakan masyarakat di sawah, kebun, dan kolam mereka.

Tasikmalaya membutuhkan ruang publik yang hidup. Namun, Tasikmalaya juga membutuhkan sawah yang dapat ditanami, irigasi yang berfungsi, dan petani yang memiliki kepastian untuk melanjutkan penghidupannya.

Lampion boleh menyala. Dadaha boleh meriah. Tetapi nasib petani Cigantang jangan dibiarkan meredup.

Sebab, ketika tanah retak dan petani kehilangan kesempatan menanam, yang dipertaruhkan bukan sekadar hasil panen. Yang dipertaruhkan adalah penghidupan rakyat dan masa depan ketahanan pangan kota.

TASIKMALAYA UNDERCOVER
Dari Rakyat untuk Rakyat.

Sultan Firman Sativa, S.Pd. / Sultan Delpohon
Pengamat Sejarah Priangan Timur

Bagikan:

Sultan Firman s

Pemerhati sejarah lokal priangan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *