TASIKMALAYA UNDERCOVER — Nama Krakatau ternyata bukan sekadar bagian dari sejarah geologi modern. Jauh sebelum dunia mengenal letusan dahsyat Krakatau 1883, kawasan gunung api di Selat Sunda telah tercatat dalam tradisi intelektual Sunda Kuno.

Jejak tersebut salah satunya ditemukan dalam naskah Bujangga Manik, sebuah karya sastra perjalanan berbahasa Sunda Kuno yang menggambarkan perjalanan seorang pertapa keliling Pulau Jawa dan Bali. Dalam naskah tersebut muncul nama “Pulo Rakata”, yang oleh para peneliti dikaitkan dengan kawasan Krakatau.
Dalam gambaran yang terpampang pada naskah dan ilustrasi sejarah tersebut, disebutkan:
“Di timur Pulo Tampurung, ti barat Pulo Rakata, gunung di tengah sagara.”
Secara sederhana, bagian tersebut menggambarkan sebuah gunung yang berdiri di tengah lautan, di antara Pulo Tampurung dan Pulo Rakata.
Istilah Rakata menjadi menarik karena dalam tradisi Jawa/Sunda Kuno dapat dikaitkan dengan kata kepiting. Namun, yang jauh lebih penting bagi sejarah adalah kenyataan bahwa nama Rakata telah hidup dalam pengetahuan geografis masyarakat Nusantara berabad-abad sebelum istilah “Krakatau” menjadi terkenal secara global.
DARI PULO RAKATA KE KRAKATAU
Bujangga Manik diperkirakan berasal dari sekitar akhir abad ke-15 atau awal abad ke-16. Naskah tersebut kini menjadi salah satu sumber penting untuk memahami lanskap geografis dan kebudayaan Jawa-Sunda pada masa lampau.
Catatan mengenai Pulo Rakata menunjukkan bahwa kawasan Selat Sunda bukanlah ruang kosong dalam pandangan masyarakat masa lalu. Laut, pulau, gunung dan jalur pelayaran telah menjadi bagian dari pengetahuan geografis mereka.
Berabad-abad kemudian, nama tersebut berubah dalam berbagai catatan dan peta.
Pada awal abad ke-17, nama Pulo Carcata muncul dalam peta karya pelaut Belanda Janszoon Waghenaer. Kemudian bentuk Krakatau semakin dikenal dalam literatur dan pemetaan Eropa.
Artinya, sejarah nama Krakatau memiliki perjalanan panjang: Rakata – Carcata – Krakatau.
2026: KRAKATAU KEMBALI MENJADI PERHATIAN
Kini, pada September 2026, kawasan tersebut kembali menjadi perhatian publik.
Gunung Anak Krakatau mengalami peningkatan aktivitas vulkanik dan erupsi berulang.
Badan Geologi Kementerian ESDM mencatat bahwa Gunung Anak Krakatau mengalami satu episode erupsi menerus sekitar 25 jam pada 4–6 September 2026. Setelah episode tersebut berakhir, aktivitas permukaan berangsur menurun dan beralih menjadi erupsi tipe Strombolian. Hingga evaluasi 11 September, status Gunung Anak Krakatau masih berada pada Level III atau Siaga.
Yang perlu menjadi perhatian, menurunnya intensitas erupsi permukaan bukan berarti aktivitas vulkanik telah selesai.
Badan Geologi mencatat aktivitas gempa permukaan memang menunjukkan kecenderungan menurun, tetapi gempa vulkanik mengalami peningkatan dibandingkan kondisi rata-rata. Kondisi tersebut mengindikasikan masih adanya dinamika atau suplai magma dari bagian yang lebih dalam.
Karena itu, masyarakat, wisatawan, nelayan dan pelaku pelayaran diminta tidak melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif.
ABU KRAKATAU MENJANGKAU JAWA BARAT
Erupsi September 2026 juga memperlihatkan bahwa Krakatau bukan persoalan yang hanya menyangkut Lampung dan Banten.
Pada 6 September, BMKG mendeteksi sebaran abu vulkanik yang mencakup Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat hingga Bengkulu. Pada ketinggian tertentu, sebaran abu bergerak mengikuti dinamika angin sehingga berdampak terhadap ruang udara dan aktivitas penerbangan.
Gangguan tersebut bahkan menyebabkan sejumlah bandar udara mengalami penutupan sementara pada periode awal erupsi. BMKG menerbitkan peringatan meteorologi penerbangan dan melakukan pemantauan atmosfer secara intensif.
Fakta ini kembali mengingatkan bahwa Selat Sunda bukan sekadar batas geografis antara Jawa dan Sumatra.
Ia adalah ruang hidup yang saling terhubung: laut, udara, masyarakat pesisir, jalur pelayaran, penerbangan, hingga wilayah Jawa Barat.
KRAKATAU: ANTARA WARISAN NASKAH DAN MITIGASI BENCANA
Ada sesuatu yang menarik jika catatan Bujangga Manik dibaca bersamaan dengan situasi Krakatau pada 2026.
Bagi manusia abad ke-15, gunung di tengah laut adalah bagian dari lanskap yang mereka lihat dalam perjalanan.
Bagi manusia abad ke-21, gunung yang sama merupakan objek pemantauan menggunakan seismograf, satelit, sensor tsunami, radar, dan sistem peringatan dini.
Teknologinya berubah.
Namun satu hal tetap sama:
Krakatau masih menjadi bagian dari kehidupan masyarakat di sekitar Selat Sunda.
Karena itu, warisan Bujangga Manik tidak semestinya hanya dipandang sebagai cerita masa lampau. Ia dapat menjadi pintu masuk untuk memahami bagaimana masyarakat Nusantara sejak dahulu telah mengenali ruang geografis, jalur perjalanan dan lanskap alam di sekelilingnya.
“GUNUNG DI TENGAH SAGARA” MASIH BERBICARA
Kalimat kuno tentang gunung di tengah laut tersebut terasa kembali memperoleh makna pada September 2026.
Dahulu, seorang bujangga mencatat perjalanan melintasi ruang Nusantara dengan pengetahuan dan pengamatan mata.
Kini, para ahli memantau Krakatau dengan instrumen ilmiah selama 24 jam.
Dari lontar ke sensor.
Dari Pulo Rakata ke Anak Krakatau.
Dari perjalanan seorang bujangga menuju teknologi kebencanaan modern.
Krakatau memperlihatkan bahwa sejarah bukan benda mati yang terkubur di masa lalu.
Ia terus bergerak.
Dan pada 2026, suara gunung api di tengah sagara kembali mengingatkan manusia bahwa alam memiliki waktunya sendiri.
Catatan Redaksi
Tasikmalaya Undercover mengimbau pembaca agar tidak menyebarkan informasi mengenai erupsi Krakatau yang belum terverifikasi. Untuk perkembangan aktivitas gunung api, masyarakat sebaiknya merujuk pada informasi resmi Badan Geologi/PVMBG, MAGMA Indonesia, BMKG dan pemerintah daerah terkait. Badan Geologi juga menegaskan bahwa masyarakat perlu tetap tenang, tetapi mematuhi radius rekomendasi dan mengikuti informasi resmi.
Penulis: Sultan Firman Sativa, S.Pd.
Pengamat Sejarah Priangan Timur
Tasikmalaya Undercover — Dari Rakyat untuk Rakyat
Pemerhati sejarah lokal priangan









